Makna Kabhanti Gambusu Wuna Di Masyarakat Muna (Kajian Semiotika Roland Barthes)
DOI:
https://doi.org/10.33772/nmdfjw10Keywords:
Kabhanti Gambusu Wuna, semiotika Roland Barthes, denotasi, konotasi, mitos budayaAbstract
Kabhanti Gambusu Wuna merupakan sastra lisan masyarakat Muna yang disampaikan melalui pantun berbalas dengan iringan gambus dan hadir dalam situasi pertunjukan sosial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos budaya dalam tuturan Kabhanti Gambusu Wuna berdasarkan semiotika Roland Barthes. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data utama berupa tuturan kabhanti pada bagian pembuka, inti, dan penutup pertunjukan, sedangkan wawancara dan dokumentasi digunakan untuk menjelaskan konteks tuturan. Data yang tercatat dalam naskah dikumpulkan pada 8 dan 10 Mei 2024. Analisis dilakukan dengan memisahkan teks asli, terjemahan, makna denotatif, makna konotatif, dan mitos atau nilai budaya yang dinaturalisasikan melalui tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna Kabhanti Gambusu Wuna tidak berhenti pada arti literal. Konotasi yang menonjol mencakup penghormatan terhadap ajaran leluhur, kedekatan emosional, saling menghargai, etika bertutur, anjuran berbuat baik, pengendalian diri, dan solidaritas keluarga. Pada tingkat mitos budaya, tuturan meneguhkan gambaran tentang anggota masyarakat yang ideal, yaitu menghormati leluhur, menjaga hubungan, memilih tutur yang baik, dan menahan diri dari perilaku yang merusak. Makna tersebut terbentuk melalui hubungan antara bahasa dan konteks pertunjukan.
Downloads
References
Barthes, Roland. 1988. The Semiotics Challenge. New York: Hill and Wang
Batoa, Kimi. (1991). Sejarah Muna. Raha: Jaya Press Raha.
Berg, Rene, Van, Den dan Sidu, La, Ode. (2000). Kamus Muna Indonesia. Kupang: Artha wacana Press.
Chaniago, Ediwer. (2006). Luambek dan Randai di Minangkabau: Pengelolaan Seni Pertunjukan dalam konteks Adat (dalam Telisik Tradisi), Jennifer Lindsay (penyunting). Jakarta: kelola.
Couvreur. (2001). Sejarah dan Kebudayaan Masyarakat Muna. Kupang: Artha Wacana Press.
Hutomo, Suripan Hadi. (1991). Mutiara yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI Jawa Timur.
Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan Mentalitas Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Mokui, La. (1991). Kabhanti Wuna (Pantun Wuna). Raha: CV Astri Raha
Niampe, La. (1999). Kabanti Oni Wolio (Puisi Berbahasa Wolio). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Lord, Albert B. (2000). The Singer of Tales Second Editin. London: Harvard University Press.
Padui, La Ode. (2011). Makna dan Nilai Kabhanti Kantola pada Masyarakat Muna. Pasca Sarjana Universitas Haluoleo.
Pradopo, Rachmat D. et al. (1998). Puisi. Jakarta: Depdikbud.
Pudentia. (2000). “Makyong: Hakikat dan Proses Penciptaan Kelisanan”. Disertasi Universitas Indonesia.
Sobur, Alex. (2016). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Saidiman (2012) Cerita rakyat Kapu-Kapuuna Masyarakat Muna Sulawesi tenggara) Tesis Universitas Pendidikan indonesia.
Sukatman, (2009). Butir-Butir Tradisi Lisan Indonesia: Pengantar Teori dan Pembelajarannya, Yogyakarta: Laksbang Pressindo.
Teeuw, A. (1994). Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya
Tuloli, Nani. (1991). Tanggomo: Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo.
Jakarta: Intermasa.
Udu, Sumiman. (2009). Perempuan dalam Kabanti Tinjauan Sosiofeminis.
Yogyakarta: Diandra.
Vansina, Jan. (1973). Oral Tradition. Inggris: Pinguin University Books.
Zulhijjah S. (2018). Makna Ungkapan Kabhanti Pada Masyarakat Wangi-Wangi Di Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara. Makassar.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.





