Kekhasan Motif Tenun Kambe-Kambera dalam Tenun Tradisional Muna
The Distinctive Features of the Kambe-Kambera Weaving Motif in Traditional Muna Weaving
DOI:
https://doi.org/10.66225/442yf357Keywords:
Kambe-kambera, motif tenun, Muna, semiotika PierceAbstract
Tenun Kambe-Kambera merupakan salah satu ragam tenun tradisional Muna yang memiliki kekhasan visual, simbolik, dan sosial karena motifnya terinspirasi dari bentuk kambera atau kupu-kupu. Di tengah perubahan selera busana, komodifikasi motif, dan menurunnya pemahaman generasi muda terhadap tata makna sarung adat, kajian mengenai hubungan antara bentuk motif, makna simbolik, dan nilai budaya tenun Kambe-Kambera menjadi penting. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk motif tenun Kambe-Kambera, menafsirkan makna simboliknya dalam tenun tradisional Muna, serta mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce melalui relasi representamen, objek, dan interpretan. Data diperoleh melalui observasi proses tenun di Desa Masalili, wawancara dengan penenun dan tokoh masyarakat, dokumentasi motif dan alat tenun, serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Kambe-Kambera hadir pada sarung bhotu, samasili, manggo-manggopa, lejha, dan bhia-bhia. Motif ini merepresentasikan identitas sosial, ketangguhan, kepemimpinan, kerja keras, kesopanan, serta hubungan manusia dengan alam. Warna kuning/emas, hitam, biru, merah, hijau, putih, dan merah muda berfungsi sebagai penanda nilai optimisme, martabat, kedewasaan, keberanian, keterbukaan, kesucian, dan kelembutan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa tenun Kambe-Kambera bukan hanya produk tekstil, melainkan arsip visual budaya Muna yang memuat sistem pengetahuan lokal, stratifikasi sosial, nilai religius, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai budaya, nilai ekonomi, dan nilai estetika. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan dokumentasi ilmiah motif tenun Muna sebagai dasar pelestarian budaya, pendidikan seni, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Downloads
References
Adji, P. S., & Wahyuningsih, N. (2018). Kain lurik: Upaya pelestarian kearifan lokal. ATRAT: Jurnal Seni Rupa, 6(2), 129-136. https://doi.org/10.26742/atrat.v6i2.544
Ambarwati, M. (2017). Studi kerajinan tenun ikat sarung goyor Bapak Sudarto di Desa Kenteng Kelurahan Pojok Kecamatan Tawangsari Sukoharjo. Jurnal Seni Rupa, 5(1), 1-10.
Badriyah, S. (2018). Lurik pada desain interior antara inovasi dan aplikasi. Imaji: Jurnal Seni Rupa dan Desain, 16(1), 92-97.
Fajarningsi, A., Kesuma, A. I., & Ahmadin. (2020). Kain tenun “Kamooru” di Kabupaten Muna (1990-2019). Phinisi Integration Review, 3(2), 204-214. https://doi.org/10.26858/pir.v3i2.14883
Lusianai, W. O., Jabar, A. S., Nurfikria, I., & Idrus, S. H. (2019). Komodifikasi dan makna simbolik motif tenun Muna sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Kabupaten Muna. Journal Publicuho, 2(2), 52-64.
Mardatillah, A., Rosmayani, & Ramadani, S. A. (2020). Sustainable competitive advantage of Riau Malay weaving industry based on local wisdom. International Research Journal of Business Studies, 13(3), 227-240. https://doi.org/10.21632/irjbs.13.3.227-240
Marante, R. T., Ahmad, A. A., & Hasnawati. (2018). Fungsi dan makna simbolik motif kain tenun tradisional Toraja. Jurnal Seni Rupa dan Desain, 1(1), 1-10.
Meira, G., Soegiarty, T., & Sobandi, B. (2013). Kain tenun ikat dengan bahan sutera alam: Analisis deskriptif ornamen kain tenun ikat dengan bahan sutera alam di Kampung Tenun Panawuan Kabupaten Garut. Kriya Tenun dan Tekstil, 1(3), 1-8.
Musafar. (2021). Bentuk dan makna tradisi Kamooru pada masyarakat Muna. Jurnal Interdisiplin Sosiologi Agama, 1(2), 154-166.
Nurcahyanti, D., Sachari, A., & Destiarmand, A. H. (2020). Peran kearifan lokal masyarakat Jawa untuk melestarikan batik tradisi di Girilayu, Karanganyar, Indonesia. Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(2), 145-153. https://doi.org/10.31091/mudra.v35i2.816
Octaviani, L. K., & Komalasari, S. A. (2020). Kain tenun ikat sebagai wisata budaya Kabupaten Sikka. Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah, 14(3), 151-159. https://doi.org/10.47256/kepariwisataan.v14i03.60
Suparna, P., & Matur, T. E. (2023). Makna simbolik kain tenun Songke Desa Batu Cermin Manggarai Barat Flores. Jurnal Sinestesia, 13(1), 495-512.
Wahid, I., & Asmawati, E. (2018). Fungsi dan makna kain adat Tolaki di Kota Kendari. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 1(2), 284-296.
Wulandari, S., La Niampe, & Suraya, R. S. (2024). Eksistensi sarung tenun Muna pada masyarakat di Desa Mabhodo Kecamatan Kontunaga Kabupaten Muna. LISANI: Jurnal Kelisanan Sastra dan Budaya, 7(2), 119-126.
Danesi, M. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Jalasutra.
Hoed, B. H. (2014). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Komunitas Bambu.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Peirce, C. S. (1931-1958). Collected Papers of Charles Sanders Peirce. Harvard University Press.
Sibarani, R. (2012). Kearifan Lokal: Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan. Asosiasi Tradisi Lisan.





