Seni Tutur Kantola pada Masyarakat Muna di Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat

The Kantola Oral Art among the Muna Community in Lawa District, West Muna Regency

Authors

  • La Ode Hasan Nur Universitas Halu Oleo Author

DOI:

https://doi.org/10.66225/he08ct41

Keywords:

Seni tutur, Kantola, tradisi lisan, masyarakat Muna

Abstract

Seni tutur kantola merupakan tradisi lisan masyarakat Muna yang berfungsi sebagai ruang ekspresi, media komunikasi, hiburan, pendidikan, serta penyampai kritik sosial melalui bahasa kiasan. Keberadaan kantola di Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat, mengalami penurunan intensitas pementasan akibat perubahan selera hiburan, modernisasi media, dan melemahnya regenerasi penutur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis fungsi serta makna seni tutur kantola pada masyarakat Muna di Kecamatan Lawa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka fungsional-struktural dan semiotika. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pelaku kantola, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga pendukung tradisi, serta studi dokumen berupa teks syair kantola. Analisis data dilakukan melalui reduksi, klasifikasi, kategorisasi, penafsiran makna, dan penarikan simpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kantola memiliki fungsi sosial, fungsi pendidikan, fungsi hiburan, dan fungsi kontrol terhadap pemerintah. Makna yang terkandung dalam kantola meliputi makna politik, percintaan, religius, dan estetika. Syair kantola menggunakan simbol alam, tumbuhan, benda, nama tokoh, dan citra keindahan untuk menyampaikan pesan secara halus, etis, dan komunikatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kantola bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan sistem komunikasi budaya yang merekam memori kolektif, nilai moral, relasi sosial, dan pandangan hidup masyarakat Muna. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kajian tradisi lisan, pendidikan seni berbasis budaya lokal, serta strategi pelestarian warisan budaya takbenda melalui dokumentasi teks, pementasan, dan integrasi pembelajaran seni budaya.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Aderlaepe, Sidu, L. O., & Aso, L. (2006). Analisis semiotik sastra lisan Kantola: Sastra lisan daerah Muna. Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara.

Anton, N. (2019). Pemahaman masyarakat tentang tradisi permainan kantola di masyarakat Muna. Etnoreflika.

Barthes, R. (1977). Image, music, text. Fontana Press.

Bascom, W. R. (1954). Four functions of folklore. Journal of American Folklore, 67(266), 333-349.

Braun, V., & Clarke, V. (2021). Thematic analysis: A practical guide. SAGE Publications.

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2023). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (6th ed.). SAGE Publications.

Danandjaja, J. (2002). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Pustaka Utama Grafiti.

Eco, U. (1976). A theory of semiotics. Indiana University Press.

Finnegan, R. (1992). Oral traditions and the verbal arts: A guide to research practices. Routledge.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Halliday, M. A. K. (1978). Language as social semiotic: The social interpretation of language and meaning. Edward Arnold.

Hardin, H., & Hadirman, H. (2017). Pesan dakwah Islam dalam nyanyian rakyat: Pemaknaan atas teks-teks Kabhanti Kantola pada masyarakat Muna. Aqlam: Journal of Islam and Plurality, 2(2).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2018). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Khayam, U. (1981). Seni, tradisi, masyarakat. Sinar Harapan.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.

La Ode Sidu, Rianse, U., & Padui, L. O. (2011). Kontola in the context of Muna culture. Mudra: Journal of Art and Culture, 26(3).

Merton, R. K. (1968). Social theory and social structure. Free Press.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2020). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (4th ed.). SAGE Publications.

Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif. Remaja Rosdakarya.

Nursalam, N., Santoso, A., Basuki, I. A., Laia, A., Sinamo, C. B., & Prastio, B. (2024). Exploration of symbolic meanings: A semiotic study of Kelong oral literature performance in Makassar community. Cogent Arts & Humanities, 11(1), 2439660. https://doi.org/10.1080/23311983.2024.2439660

Parsons, T. (1951). The social system. Free Press.

Peirce, C. S. (1931-1958). Collected papers of Charles Sanders Peirce. Harvard University Press.

Saussure, F. de. (1916). Course in general linguistics. McGraw-Hill.

Sibarani, R. (2012). Kearifan lokal: Hakikat, peran, dan metode tradisi lisan. Asosiasi Tradisi Lisan.

Sugiyono. (2020). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.

Turner, V. (1967). The forest of symbols: Aspects of Ndembu ritual. Cornell University Press.

UNESCO. (2023). Living heritage: Safeguarding without freezing. UNESCO.

UNESCO. (2024). Basic texts of the 2003 Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. UNESCO.

Vansina, J. (1985). Oral tradition as history. University of Wisconsin Press.

Downloads

Published

2026-05-08

How to Cite

Seni Tutur Kantola pada Masyarakat Muna di Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat: The Kantola Oral Art among the Muna Community in Lawa District, West Muna Regency. (2026). Jurnal Pembelajaran Seni Dan Budaya, 9(2), 97-106. https://doi.org/10.66225/he08ct41

Similar Articles

11-20 of 40

You may also start an advanced similarity search for this article.